GARUT INTAN NEWS – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026 tingkat Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, berlangsung dengan tingkat partisipasi yang meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, partisipasi sekolah dalam kegiatan pelestarian bahasa dan budaya Sunda disebut mencapai hampir 90 persen.
FTBI 2026 mengusung tema “Ngamamule Bahasa Indung, Ngariksa Warisan Karuhun”. Sejumlah kategori dilombakan, mulai dari ngadongeng, biantara, ngarang carita pondok, maca jeung nulis aksara Sunda, nembang pupuh, ngabodor sorangan, hingga maca sajak.
Kegiatan tersebut dihadiri Korwas Karangpawitan H. Jujun Junaedi, M.Pd., Ketua K3S Kecamatan Karangpawitan Nurdin Setia Aji, M.Pd., Ketua PGRI Kecamatan Karangpawitan Indra Rakhman, M.Pd., M.G., serta para kepala sekolah, guru dan siswa sekolah dasar se-Kecamatan Karangpawitan.
Ketua Panitia FTBI 2026 tingkat Kecamatan Karangpawitan, Jujun Junaedi, mengatakan partisipasi peserta tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan.
“Terkait kegiatan FTBI di tingkat Kecamatan Karangpawitan untuk Tahun 2026 ini, Alhamdulillah ada peningkatan yang signifikan. Pada tahun-tahun sebelumnya yang mengikuti kegiatan ini sekitar 70 persen, tetapi sekarang hampir mencapai 90 persen,” ujar Jujun.
Tingginya antusiasme peserta membuat rangkaian perlombaan berlangsung hingga sore hari. Salah satu kategori yang mendapat perhatian besar adalah ngadongeng, dengan jumlah peserta yang disebut mencapai sekitar 102 orang.
“Barusan yang baru beres itu terkait dengan dongeng, karena pesertanya hampir mencapai 102 orang kalau tidak salah,” katanya.
Jujun menambahkan, tingginya partisipasi juga tidak terlepas dari dukungan para kepala sekolah dan guru yang dinilai cukup responsif terhadap pelaksanaan FTBI.
Menurutnya, kegiatan tersebut terlaksana melalui kolaborasi antara PGRI Cabang Kecamatan Karangpawitan dan K3S. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting sehingga kegiatan dapat berjalan lancar.
Juri Didatangkan dari Luar Kecamatan
Dalam pelaksanaan FTBI tahun ini, panitia juga mendatangkan dewan juri dari luar Kecamatan Karangpawitan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga objektivitas penilaian sekaligus menghindari munculnya anggapan bahwa pemenang didominasi sekolah tertentu.
Jujun mengatakan keputusan tersebut membuat peraih juara tahun ini lebih merata di sejumlah sekolah.
“Terkait dewan juri, Alhamdulillah dewan juri itu mendatangkan dari luar. Ini untuk menghilangkan hal-hal yang tidak diharapkan, adanya kecurigaan-kecurigaan juaranya hanya didominasi oleh sekolah-sekolah tertentu,” jelasnya.
Ia berharap para peserta terbaik yang berhasil meraih juara di tingkat kecamatan nantinya mampu membawa nama baik Karangpawitan pada ajang FTBI tingkat Kabupaten Garut hingga Jawa Barat.
“Harapan kami ke depannya, yang menjadi juara terbaik Kecamatan Karangpawitan bisa mewakili Karangpawitan di tingkat Kabupaten Garut dan juga Jawa Barat,” pungkasnya.
Pelaksanaan FTBI 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa serta budaya Sunda sebagai bagian dari warisan leluhur.
Pagar Gedung PGRI Ambruk
Di tengah pelaksanaan FTBI 2026, sebuah insiden terjadi pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Dinding atau pagar pembatas di akses masuk Gedung PGRI Kecamatan Karangpawitan roboh.
Insiden tersebut sempat menimbulkan kepanikan. Namun, tidak ada korban dalam kejadian tersebut karena pagar roboh ke arah lahan kosong milik warga.
Saat kejadian, para peserta disebut telah berada di dalam aula Gedung PGRI. Sementara kendaraan maupun kerumunan orang tua dan pedagang berada cukup jauh dari titik pagar yang ambruk.