GARUT INTAN NEWS – Suasana Ramadan menghadirkan nuansa berbeda di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut. Di tengah keterbatasan ruang gerak, ratusan warga binaan memanfaatkan bulan suci untuk memperdalam ilmu agama melalui program pesantren Ramadan yang rutin digelar setiap tahun.
Kegiatan pembinaan keagamaan tersebut dipusatkan di lingkungan Pondok Pesantren Terpadu Taubat Al-Mudznibin yang berada di dalam area lapas. Setiap hari, para peserta mengikuti rangkaian ibadah dan pembelajaran, mulai dari tadarus Al-Qur’an, pembelajaran tajwid dan tahsin, hingga kajian keislaman yang disampaikan pembimbing rohani.
Program ini diikuti lebih dari seratus warga binaan dengan latar belakang kemampuan membaca Al-Qur’an yang beragam. Sebagian masih memulai dari tahap dasar, sementara lainnya telah mampu membaca dengan lancar dan menargetkan khatam Al-Qur’an selama Ramadan. Meski berbeda kemampuan, semangat untuk belajar dan memperbaiki diri tampak merata di antara para peserta.
Kepala Lapas Garut, Rusdedy, A.Md.IP., S.H., M.Si., menegaskan bahwa pembinaan spiritual menjadi salah satu fondasi utama dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, Ramadan merupakan momentum strategis untuk memperkuat karakter serta menanamkan nilai-nilai keagamaan bagi warga binaan.
“Pembinaan di lapas bukan hanya soal kedisiplinan dan keterampilan kerja, tetapi juga menyentuh aspek mental dan spiritual. Kami ingin warga binaan memiliki bekal moral yang kuat agar ketika kembali ke masyarakat, mereka mampu menjalani kehidupan yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu,” ujarnya.
Ia menambahkan, program pesantren Ramadan dirancang untuk membangun kebiasaan positif yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan musiman. Melalui pendekatan keagamaan yang konsisten, diharapkan tumbuh kesadaran diri, ketenangan batin, serta semangat untuk berubah.
Dengan suasana khusyuk dan penuh kebersamaan, Ramadan di Lapas Garut menjadi cerminan bahwa kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri selalu terbuka, di mana pun seseorang berada.
