GARUT INTAN NEWS – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut berhasil memanen 17,7 ton ayam pedaging melalui program pembinaan kemandirian yang melibatkan tujuh warga binaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan peternakan.
Panen yang berlangsung secara bertahap pada 8–14 Oktober 2026 tersebut menghasilkan 8.990 ekor ayam dari populasi awal sebanyak 9.400 ekor. Dengan bobot rata-rata 1,97 kilogram per ekor, total produksi mencapai 17.742 kilogram.
Dari hasil pemeliharaan tersebut, sebanyak 50 ekor ayam disalurkan kepada masyarakat di sekitar Lapas sebagai bentuk kepedulian sosial. Sementara itu, 360 ekor lainnya mengalami kematian selama masa pemeliharaan.
Kegiatan peternakan yang berlokasi di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) ini dikelola melalui kerja sama dengan PT Barokah Restu Utama.
Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengatakan bahwa capaian tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan warga binaan agar memiliki keterampilan dan kemandirian.
“Panen 17,7 ton ayam ini bukan sekadar capaian produksi, melainkan bukti bahwa warga binaan mampu menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan. Kami ingin Lapas menjadi ruang pembinaan yang produktif, tempat warga binaan memperoleh keterampilan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Rusdedy.

Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan warga binaan.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Garut, Asep Supriatna, menjelaskan bahwa tujuh warga binaan yang terlibat mendapatkan pengalaman praktik dalam berbagai tahapan peternakan. Mulai dari pemeliharaan ayam, pengelolaan pakan, pengawasan pertumbuhan hingga proses panen.
“Kami tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga memastikan setiap proses menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan. Harapannya, pengalaman ini dapat membuka peluang usaha maupun pekerjaan setelah mereka kembali ke masyarakat,” kata Asep.
Selain mendukung ketersediaan pangan, pengelolaan peternakan tersebut juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta pemberian premi kepada warga binaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui program ini, Lapas Kelas IIA Garut berupaya mengembangkan pembinaan yang produktif dengan mengintegrasikan kegiatan ekonomi, peningkatan keterampilan, dan kepedulian sosial.
Hasil panen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan pembinaan di dalam Lapas dapat diarahkan untuk menghasilkan produk pangan, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta mempersiapkan warga binaan agar lebih mandiri ketika kembali ke lingkungan sosialnya.