GARUT INTAN NEWS – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konversi mahasiswa Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung di Komunitas Salarea, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, ditutup dengan kegiatan panen sayuran dari greenhouse kebun gizi dan pembagian makanan bergizi bagi balita, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan tersebut merupakan bagian dari KKN Konversi kolaborasi dosen Magister Informatika UIN SGD Bandung. Kegiatan dipusatkan di fasilitas greenhouse kebun gizi stunting yang dibangun PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) bersama Yayasan Kelompok Kerja Salarea (Salarea Foundation), yang menaungi Komunitas Salarea.
Sebanyak delapan mahasiswa Teknik Informatika UIN SGD Bandung terlibat dalam kegiatan tersebut. Salah satu fokus utama mereka adalah melakukan uji coba penerapan sistem penyiraman dan pemupukan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui web application.
Mahasiswa KKN Konversi, Putri Puspita, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman berkesan karena mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang dipelajari di kampus secara langsung dalam sebuah program nyata di masyarakat.
“Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah membantu pengelolaan greenhouse kebun gizi. Selama kegiatan berlangsung, kami berhasil menerapkan sistem tersebut dan melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi yang ada di lapangan,” ujar Putri.
Menurutnya, proses tersebut juga memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan teknologi sekaligus mencari solusi terhadap berbagai kendala yang ditemukan selama penerapan di lapangan.
Putri berharap sistem yang telah dibuat dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh Salarea Foundation sehingga mampu mempermudah pengelolaan greenhouse dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Hal senada disampaikan mahasiswa lainnya, Aryanti Nagela. Ia menuturkan bahwa pada awal kegiatan, proses penyiraman dan pemupukan tanaman di greenhouse masih dilakukan secara manual.
“Karena itu, kami berinisiatif membuat sistem otomatis berbasis IoT untuk membantu meringankan pekerjaan pengelola sekaligus mendukung keberlanjutan program kebun gizi,” katanya.
Aryanti menjelaskan, sistem yang dikembangkan mahasiswa telah diterapkan pada 28 titik. Sistem tersebut dilengkapi web app yang memungkinkan pengelola melakukan pengaturan jadwal, kontrol secara manual, perintah suara, hingga penggunaan AI Assistant.
“Kami juga senang karena sistem tersebut dapat dipahami dan dipraktikkan oleh pengelola kebun gizi. Semoga sistem ini dapat terus dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, serta dapat memberikan manfaat bagi keberlanjutan program kebun gizi di Komunitas Salarea,” harapnya.
Sementara itu, dosen pembimbing KKN Konversi sekaligus Ketua Jurusan Magister Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Yana Aditia Gerhana, mengapresiasi kepercayaan, dukungan, dan kerja sama Komunitas Salarea yang telah memfasilitasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas memberikan manfaat tidak hanya bagi pengembangan pengalaman mahasiswa, tetapi juga bagi keberlanjutan program kebun gizi dalam mendukung penanganan stunting.
“Kolaborasi ini sangat bermanfaat bukan hanya bagi pengalaman mahasiswa didik kami, tapi juga berdampak positif bagi keberlanjutan program penanganan stunting lewat hasil panen kebun gizi,” ungkap Yana.
Ketua Salarea Foundation, Dadan M Ramdan, mengatakan penerapan digitalisasi pertanian melalui sistem IoT memberikan manfaat dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan greenhouse, terutama dari sisi waktu, biaya, dan tenaga.
Selama ini, kata Dadan, penyiraman dan pemupukan tanaman di greenhouse masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan tenaga dan waktu pengelola.
“Digitalisasi pertanian sangat membantu efisiensi waktu, biaya dan tenaga dalam memproduksi sayuran di greenhouse kebun gizi yang selama ini proses penyiraman dan pemupukan dilakukan secara manual,” tuturnya.
Dalam tahap uji coba sistem, mahasiswa menanam kangkung dan bayam karena kedua jenis sayuran tersebut memiliki masa panen relatif singkat, yakni sekitar satu bulan.
“Ditanam organik dan hasilnya sangat memuaskan,” kata Dadan.
Ia menambahkan, kebun gizi yang dirintis sejak 2024 tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sayuran, tetapi juga memastikan hasil panennya dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang menjadi sasaran program.
Setiap hasil panen selanjutnya didistribusikan kepada penerima manfaat, terutama anak-anak yang terindikasi mengalami stunting.
“ kali ini kami mendistribusikan hasil panen sayur bersama paket makanan bergizi untuk 50 anak,” jelasnya.
Panen sayuran dan pembagian makanan bergizi tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian KKN Konversi mahasiswa Teknik Informatika UIN SGD Bandung. Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas dapat menggabungkan penerapan teknologi dengan program ketahanan pangan dan peningkatan gizi masyarakat.
Melalui penerapan sistem IoT, pengelolaan greenhouse diharapkan menjadi lebih efisien, sementara hasil panennya dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak di lingkungan sekitar Komunitas Salarea.