GARUT INTAN NEWS – Penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Garut masih sangat bergantung pada sektor industri manufaktur. Masuknya investasi baru dinilai menjadi faktor paling menentukan dalam membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar dan menekan angka pengangguran.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Garut, Nia Gania Karyana. Menurutnya, meski lowongan pekerjaan di Kabupaten Garut tersedia di berbagai sektor, kebutuhan terbesar tetap berasal dari industri pabrik yang mampu merekrut pekerja dalam jumlah besar.
“Penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Garut paling besar memang berasal dari sektor pabrik. Ada juga sektor jasa dan sektor lainnya yang membuka lowongan, tetapi jumlah penyerapannya tidak sebesar industri manufaktur,” ujar Nia.
Ia mengungkapkan, salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
“Sebetulnya lowongan kerja di Garut cukup banyak, hanya saja sering kali tidak sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan perusahaan,” katanya.
Menurut Nia, tanpa hadirnya investasi baru, terutama pembangunan pabrik, ruang penyerapan tenaga kerja akan semakin terbatas. Hal itu berbeda dengan instansi pemerintah maupun sektor perbankan yang umumnya hanya membuka rekrutmen dalam jumlah sangat sedikit.
“Kalau tidak ada investasi pendirian pabrik, kesempatan kerja akan semakin sempit. Rekrutmen di kedinasan atau perbankan biasanya hanya satu sampai dua orang, sehingga tidak berdampak besar terhadap penurunan pengangguran,” jelasnya.
Sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Disnakertrans Garut terus mengembangkan program pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) serta bekerja sama dengan berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Nia menjelaskan, sebagian besar LPK swasta di Garut fokus pada pelatihan bahasa Jepang dan bahasa Inggris untuk kebutuhan tenaga kerja luar negeri. Sementara BLK milik pemerintah menyediakan pelatihan yang lebih beragam, seperti desain grafis, menjahit, hingga berbagai keterampilan kerja lainnya.
“Kami menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kerja agar siap bekerja maupun menjadi wirausaha,” ujarnya.
Disnakertrans juga tengah menelusuri informasi mengenai pembangunan pabrik Elnova di Kabupaten Garut yang dikabarkan akan menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja untuk memproduksi jaket tujuan ekspor ke Eropa.
“Informasinya akan menyerap sekitar dua ribu pekerja. Kami masih memastikan kebenaran informasi tersebut. Jika benar, kami memiliki anggaran dari kementerian untuk melatih calon tenaga kerja, terutama di bidang menjahit sesuai kebutuhan perusahaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, intervensi pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam penyerapan tenaga kerja relatif terbatas. Oleh karena itu, investasi sektor industri tetap menjadi penggerak utama penciptaan lapangan kerja.
“Intervensi penyerapan kerja dari APBD relatif kecil. Yang paling besar tetap berasal dari sektor pabrikasi. Kalau ada pembukaan pabrik baru, dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja akan sangat besar,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Garut mencapai sekitar 1,3 juta orang, dengan jumlah penganggur tercatat hampir 69 ribu orang.
Nia menyebutkan, sektor manufaktur, khususnya perusahaan dengan Penanaman Modal Asing (PMA), menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Salah satunya PT Changshin yang hampir setiap bulan membuka lowongan kerja karena tingginya tingkat pergantian tenaga kerja.
Selain Changshin, perusahaan seperti Hoga, Tactical, Pratama, dan Uni juga menjadi perusahaan yang cukup banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Garut.
Di sisi lain, tingkat pengangguran di Kabupaten Garut masih didominasi lulusan SMA dan SMK. Disnakertrans masih menunggu pemutakhiran data dari BPS terkait rincian tingkat pendidikan para pencari kerja.
“Mayoritas pengangguran berasal dari tingkat pendidikan menengah ke atas. Data lengkapnya masih menjadi kewenangan BPS,” kata Nia.
Untuk memperluas kesempatan kerja, Disnakertrans Garut terus memperkuat komunikasi dengan dunia usaha, memfasilitasi proses rekrutmen, memperluas penempatan tenaga kerja formal maupun informal, serta mengoptimalkan sosialisasi platform Siap Kerja agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi lowongan pekerjaan.
