GARUT INTAN NEWS –
Semangat guru untuk terus berkembang tidak mengenal batas wilayah maupun latar belakang satuan pendidikan. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., guru MIS Ar-Raudhotun Nur Bayongbong, Kabupaten Garut, yang berhasil menuntaskan rangkaian Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generation 8, program pengembangan guru berskala nasional yang diselenggarakan oleh ParagonCorp bersama Guru Belajar Foundation.
Program yang berlangsung pada 6 Februari hingga 26 September 2026 tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Sekitar 30 ribu guru tercatat mengikuti rangkaian program, sementara sekitar 5 ribu peserta berhasil menuntaskan proses hingga dinyatakan lulus. Dari perjalanan tersebut, sebanyak 500 guru terpilih dalam sisi Cerita Perubahan. Di antara ribuan pendidik tersebut, Insan menjadi salah satu guru dari Kabupaten Garut yang mampu menyelesaikan rangkaian program dan membawa pengalaman guru madrasah dari daerah ke dalam ruang pengembangan pendidikan berskala nasional.
Keikutsertaan Insan tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan pengembangan dirinya sebagai pendidik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berproses bersama guru-guru dari berbagai penjuru Indonesia. Para peserta datang dengan latar belakang, pengalaman, karakteristik sekolah, serta tantangan pendidikan yang berbeda. Dalam ruang tersebut, Insan berkesempatan untuk bertukar pengalaman dan melihat bahwa praktik pendidikan memiliki keberagaman yang sangat luas, mulai dari Sabang hingga Merauke.
Bagi Insan, kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting sebagai guru yang sehari-hari mengabdi di lingkungan madrasah. Ia ingin menunjukkan bahwa guru madrasah juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam program pengembangan profesional yang berskala nasional. Baginya, keterbatasan wilayah maupun perbedaan naungan lembaga bukan alasan untuk berhenti belajar. “Saya mengikuti Wardah Inspiring Teacher bukan sekadar untuk mendapatkan pengalaman atau menyelesaikan sebuah program. Saya ingin belajar sekaligus membawa semangat guru dari Garut. Saya ingin menunjukkan bahwa guru madrasah juga mampu mengambil bagian dalam ruang pendidikan nasional dan berproses bersama guru-guru dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Insan.
Perjalanan menuju kelulusan tersebut membutuhkan komitmen yang konsisten. Peserta harus mengikuti berbagai tahapan yang telah ditentukan, menyelesaikan tugas, mengikuti proses pembelajaran, melakukan refleksi, serta mengembangkan praktik yang berkaitan dengan proses pendidikan. Bagi Insan, setiap tahapan bukan sekadar kewajiban program, tetapi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali praktik pembelajaran yang selama ini diterapkan di madrasah.
Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri karena program WIT Gen 8 diikuti oleh guru dari berbagai lingkungan pendidikan. Insan yang berasal dari madrasah di bawah naungan Kementerian Agama harus berproses dalam ruang yang diikuti pula oleh banyak guru dari satuan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Namun, kondisi tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk menyelesaikan setiap tahapan dengan sungguh-sungguh. “Saya tidak melihat perbedaan naungan lembaga sebagai sebuah batas. Justru saya mendapatkan banyak pengalaman ketika bertemu dengan guru-guru dari berbagai daerah. Ada banyak praktik baik yang bisa dipelajari. Saya juga ingin membawa pengalaman tersebut kembali ke madrasah dan menyesuaikannya dengan kebutuhan peserta didik di tempat saya mengajar,” jelasnya.
Selama mengikuti program, Insan juga mendapatkan kesempatan untuk memperkuat pemahaman mengenai pengembangan pembelajaran dan refleksi terhadap praktik mengajar. Pengalaman tersebut sejalan dengan berbagai inovasi yang selama ini ia lakukan di MIS Ar-Raudhotun Nur, seperti pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, pengembangan asesmen yang lebih kreatif, penerapan Project Based Learning, serta penggunaan berbagai metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.
Menurut Insan, proses pengembangan kompetensi guru tidak dapat berhenti setelah memperoleh kelulusan. Guru perlu memiliki kebiasaan belajar secara berkelanjutan karena kebutuhan peserta didik terus berkembang. Oleh karena itu, pengalaman mengikuti WIT Gen 8 akan menjadi bagian dari proses panjang untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran. “Saya merasa kelulusan ini bukan akhir. Justru setelah menyelesaikan program, tanggung jawab saya adalah bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh bisa diterapkan di kelas. Guru harus terus belajar karena siswa yang kita hadapi juga terus berubah. Apa yang baik hari ini harus terus dievaluasi agar menjadi lebih baik pada masa yang akan datang,” tutur Insan.
Sebagai salah satu guru dari Kabupaten Garut yang mengikuti program tersebut, Insan juga berharap pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan madrasah. Ia berkomitmen untuk membagikan pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh selama mengikuti program kepada rekan-rekan guru sehingga proses pengembangan diri tidak berhenti pada pencapaian individu.
Keikutsertaan Insan sekaligus menjadi bagian dari perjalanan guru madrasah untuk membuka jejaring pembelajaran yang lebih luas. Dari lingkungan madrasah di Bayongbong, ia berkesempatan bertemu dengan pendidik dari berbagai daerah di Indonesia dan menyelesaikan proses yang sama dalam sebuah program nasional. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa guru di daerah juga dapat mengambil bagian dalam ruang pengembangan pendidikan yang lebih luas apabila memiliki kemauan untuk terus belajar dan mencoba. “Saya bersyukur mendapatkan kesempatan menjadi salah satu guru dari Garut yang mengikuti program ini. Harapan saya, pengalaman ini bukan hanya menjadi cerita pribadi, tetapi bisa menjadi motivasi bahwa guru madrasah di daerah juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Saya ingin terus belajar dan berusaha membawa nama baik madrasah serta Kementerian Agama, khususnya Kementerian Agama Kabupaten Garut, melalui karya dan kontribusi di bidang pendidikan,” pungkasnya.
Rangkaian Wardah Inspiring Teacher Gen 8 yang berakhir pada September 2026 menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan profesional Insan Faisal Ibrahim sebagai guru madrasah. Dari Garut, ia membawa semangat belajar ke ruang nasional dan kembali dengan pengalaman yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi madrasah. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pengembangan kompetensi guru dapat dimulai dari mana saja, termasuk dari ruang kelas madrasah di daerah, selama terdapat kemauan untuk terus belajar, berefleksi, dan memberikan dampak bagi peserta didik.