GARUT INTAN NEWS – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut terus dikembangkan melalui sektor peternakan. Salah satunya melalui budidaya ayam petelur yang kini mampu menghasilkan ribuan telur sekitar 130 hingga 140 kilogram telur setiap hari.
Kepala Lapas Garut, Rusdedy, mengatakan program peternakan ayam petelur tersebut dimulai dengan populasi sekitar 3.000 ekor. Seiring berjalan dan berkembangnya program, produksi telur kini telah mencapai rata-rata 130-140 kilogram per hari.
“Kalau ayam petelur start di 3.000 ekor, hari ini kita sudah menghasilkan kurang lebih sekitar 130-140 kilogram per hari,” ujar Rusdedy.
Hasil produksi telur tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Lapas. Sebagian telur dipasarkan di lingkungan Lapas dan sebagian lainnya dijual kepada masyarakat.
“Untuk petelur sekitar dipasarkan ke dalam Lapas dan juga untuk dipasarkan di depan untuk masyarakat,” katanya.
Produksi Pakan Secara Mandiri

Selain mengembangkan produksi telur, Lapas Garut juga berupaya menekan ketergantungan terhadap pakan dari luar dengan memproduksi pakan ayam secara mandiri.
Rusdedy menyebut produksi pakan sendiri telah berjalan dan dinilai mampu memenuhi kebutuhan peternakan ayam petelur yang dikelola Lapas.
“Untuk pakan sekitar sudah membuat pakan sendiri, jadi memproduksi dan alhamdulillah sudah cukup,” ungkapnya.
Menurutnya, penggunaan pakan yang diproduksi secara mandiri juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hasil peternakan.
Dengan produksi telur mencapai hingga 140 kilogram per hari serta kemampuan membuat pakan sendiri, program peternakan ayam petelur tersebut menjadi salah satu kegiatan produktif dalam pembinaan kemandirian di Lapas Garut.
Program ini sekaligus memberikan pengalaman dan keterampilan kepada warga binaan di bidang peternakan yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Pengembangan peternakan ayam petelur juga menunjukkan bahwa pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada aspek kepribadian, tetapi turut diarahkan pada keterampilan produktif dan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi.
