GARUT INTAN NEWS — Harga sejumlah komoditas sayuran di Kabupaten Garut mengalami perubahan pada pekan kedua Agustus 2026. Berdasarkan laporan data harga komoditas sayuran yang dirilis Dinas Pertanian Kabupaten Garut, terdapat 12 komoditas yang dipantau dari sejumlah wilayah sentra produksi.
Data yang bersumber dari petani di Kecamatan Cikajang, Bayongbong, dan Banyuresmi tersebut mencatat, sebanyak lima komoditas mengalami kenaikan harga, satu komoditas relatif stabil, sementara enam komoditas lainnya mengalami penurunan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian mengatakan Kenaikan harga paling signifikan terjadi pada wortel, yang mencapai 66,67 persen dibandingkan rata-rata harga pada pekan sebelumnya. Harga wortel tercatat rata-rata Rp2.500 per kilogram, naik dari rata-rata pekan sebelumnya sebesar Rp1.500 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit merah sebesar 23,33 persen. Harga komoditas tersebut rata-rata berada di angka Rp37.000 per kilogram, naik dari Rp30.000 per kilogram pada pekan sebelumnya.
Selanjutnya, sawi putih mengalami kenaikan 20 persen, dengan rata-rata harga pekan ini Rp12.000 per kilogram, dibandingkan Rp10.000 per kilogram pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, cabai merah naik 17,65 persen menjadi rata-rata Rp10.000 per kilogram dari sebelumnya Rp8.500. Kacang merah juga mengalami kenaikan 15,87 persen, dari rata-rata Rp4.833 menjadi Rp5.600 per kilogram.
Adapun komoditas yang relatif stabil adalah kol/kubis, dengan harga rata-rata Rp1.000 per kilogram, sama seperti pekan sebelumnya.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Bawang merah menjadi komoditas dengan penurunan paling tajam, yakni mencapai 40 persen. Harga rata-ratanya turun dari Rp4.000 menjadi Rp2.400 per kilogram.
Penurunan berikutnya terjadi pada cabai merah keriting sebesar 26,67 persen, dari Rp3.000 menjadi Rp2.200 per kilogram.
Tomat turun 14,29 persen, dari Rp21.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.
Komoditas lainnya yang mengalami penurunan yakni kentang ABC sebesar 8,57 persen, labu siam 4,76 persen, serta buncis 4,42 persen.
Perubahan harga tersebut menunjukkan dinamika harga komoditas sayuran di tingkat petani yang masih bergerak dari satu pekan ke pekan berikutnya. Data harga menjadi salah satu indikator penting dalam memantau kondisi komoditas pertanian sekaligus perkembangan harga pangan di Kabupaten Garut.
Dinas Pertanian Kabupaten Garut melalui pemantauan harga komoditas tersebut turut memberikan gambaran mengenai kondisi harga sayuran di wilayah sentra produksi, sehingga perkembangan harga dapat diketahui secara berkala.
