GARUT INTAN NEWS – Di Kampung Ciherang, Desa Haurkuning, Kecamatan Malangbong, Garut, kaulinan baheula bernama “lolorian” masih bertahan di tengah gempuran permainan digital. Permainan tradisional ini menjadi bukti kreativitas masyarakat kampung Ciherang dalam menciptakan wahana bermain sederhana, namun sarat nilai kebersamaan dan budaya.
“Lolorian” merupakan permainan luncur menyerupai lori atau kereta kecil. Media utamanya berupa papan kayu berukuran sekitar 27 sentimeter yang dijalankan di atas rel sederhana selebar kurang lebih 20 sentimeter.
Rel tersebut dibuat dari batang pohon pinang atau aren yang disusun memanjang mengikuti kontur tanah dari area menanjak ke menurun. Panjang lintasannya bahkan bisa mencapai sekitar 150 meter, sehingga memberikan sensasi meluncur yang cukup panjang bagi anak-anak.
Dikutip dari Kompas TV, Permainan ini diciptakan pada tahun 1965 oleh Abah Koko, warga setempat. Ia merancang lolorian dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Konsepnya sederhana: papan kayu diberi roda atau penopang agar dapat meluncur stabil di atas rel alami. Untuk menggerakkannya, anak-anak cukup mendorong papan ke titik tertinggi, lalu membiarkannya meluncur mengikuti gravitasi.
Ukuran dan konsep dasar lolorian tersebut masih dipertahankan hingga kini. Hal ini menunjukkan konsistensi warga dalam menjaga keaslian permainan tradisional tersebut.
Secara teknis, lolorian memadukan prinsip keseimbangan, gravitasi, dan gesekan secara sederhana. Anak-anak belajar memahami bagaimana posisi duduk memengaruhi laju papan, serta pentingnya menjaga keseimbangan agar tetap berada di atas rel. Meski terlihat sederhana, permainan ini melatih koordinasi tubuh, keberanian, sekaligus ketelitian.
Lebih dari sekadar permainan, lolorian juga
menjadi simbol ketahanan budaya lokal. Di saat banyak kaulinan barudak lembur mulai ditinggalkan, masyarakat Ciherang justru mempertahankan dan mengenalkannya kembali kepada generasi muda. Permainan ini dimainkan secara bergiliran, sehingga menumbuhkan nilai kebersamaan, kesabaran, dan interaksi sosial yang kuat.
Pemanfaatan bahan alami seperti kayu, pinang, dan aren menunjukkan kearifan lokal dalam menciptakan hiburan yang murah, aman, dan ramah lingkungan.
Keberadaan lolorian di Malangbong menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi modern. Sejak 1965 hingga kini, permainan ini tetap relevan karena menghadirkan pengalaman bermain yang nyata—sentuhan kayu, derit rel, dan tawa anak-anak yang meluncur bersama.
