GARUT INTAN NEWS – Pagi mulai beranjak siang. Tujuh orang pelajar tampak serius memetik biji buah yang sudah berwarna merah. Ya, itulah ceri kopi yang telah matang. Satu per satu buah berbentuk bulat agak lonjong itu, mereka masukan ke masing-masing plastik kecil.
Begitulah selintas aktivitas pelajar SMA Labschool Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cibiru, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang tengah melaksanakan kegiatan live in selama tiga hari dari 21-23 Januari 2026, di Pawon Kopi Salarea, Sumurkondang, Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Kabuaten Garut. Live in merupakan program pengabdian masyarakat yang rutin diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di bawah naungan Labschool.
“Petik buah kopi yang besar-besar berwarna merah, itu tandanya sudah matang. Ini namanya petik cantik, salah satu teknik untuk memilah kopi berkualitas baik dalam proses pengolahan pasca panen,” ujar Dadan M Ramdan, Pendiri Komunitas Salarea, yang juga Owner Pawon Kopi Salarea.
“Ada yang tahu, ini jenis kopinya apa? Arabika atau robusta? tanya Dadan. “Kopi robusta kang,” ucap Alvito Renaldy Gumilar, salah satu pelajar peserta live in.
“Coba, masing-masing petik dua daun kopi dari pohon kopi yang berbada. Ambil daun yang ukurannya kecil-kecil dan yang lebar-lebar,” imbuh Dadan memberi arahan.
Pembelajaran langsung mengenal komoditas kopi ini berlangsung di halaman Pawon Kopi Salarea. Di sejumlah sudut terdapat koleksi tanaman kopi arabika dan robusta. Ada arabika ateng super, lini-S, yellow bourbon hingga robusta buhun.
“Tadinya, kita ada rencana naik ke kebun kopi Cibatu di Gunung Sadakeling dan Gunung Bungarungkup. Tapi, kondisi hujan terus tidak, memungkinkan ke atas karena jalannya licin. Jadinya, anak-anak belajar mengenal kopi dari tanaman koleksi,” jelas Dadan, yang juga pegiatan sosial-lingkungan.

Menurut Dadan, selain dikenalkan dengan jenis-jenis kopi dan ciri cirinya, pelajar juga diajari pembuatan media tanam, menyemai bibit kopi, hingga menanam bibit kopi di polybag. Pelajar juga dibekali pengetahuan tentang proses-proses pengolahan kopi pasca panen, menyortir green bean, cara menyangrai biji kopi atau roasting hingga teknik menyeduh kopi ala barista.

Aldo Dwi Prayoga, Guru Pendamping SMA Labschool UPI Cibiru menjelaskan, agenda live in memang dirancang sebagai pembelajaran bagi peserta didik untuk terjun langsung ke masyarakat, bersosialisasi dengan warga, sekaligus mengenal budaya dan adat istiadat setempat. “Anak-anak tinggal di rumah keluarga angkat. Mereka harus masak sendiri, membersihkan rumah, ya belajar hidup mandiri jauh dari orangtua-lah,” paparnya.
Di samping itu, kata Aldo, pelajar diajak melihat kegiatan usaha dan produksi di usaha kecil dan menengah. “Anak sangat antusias mengikuti kegiatan live in di Pawon Kopi Salarea. Tak hanya mengenal dunia kopi dari hulu-hilir, mereka mendapat pemahaman soal bertani, menaman buah dan sayur di kebuh gizi yang dikelola Komunitas Salarea,” sebutnya.
Di kebun gizi ini ditanam semangka, melon, anggur, kacang tanah, pisang, pepaya, talas hingga labu siam. Dalam kesempatan tersebut, peserta juga melakukan langsung penanaman bibit hingga penyemprotan hama.
Menurut Dadan, hasil panen dari kebun gizi ini diberikan ke balita saat penimbangan di Posyandu. “Kebun gizi stunting ini dibangun lewat kemitraan dengan Jamkrindo dan relawan stunting bersama Komunitas Salarea,” imbuhnya.
Dari serangkain kegiatan selama tiga hari dijalani, Allya Zahra Kheylla Faustha mengaku sangat senang dan antusias lantaran banyak mendapat pengalaman dan pelajaran baru. “Saya awalnya tahu Pawon Kopi Salarea dari TikTok, ada mahasiwsa yang KKN. Nah, programnya menarik, karena selain produksi kopi, ada kebun gizinya,” tutur dia.
Allya bilang, selama mengikuti kegiatan bisa mendapat pengetahuan soal bertani, keterkaitan tanam kopi dengan ekologi dan kelestarian hutan, serta mengetahui sejarah tokoh ulama penting di Sumurkondang. “Kami sempat berziarah ke makam Eyang Nurhikam,” ungkap Allya.
Untuk diketahui, Eyang Nurhikam merupakan tokoh ulama sekaligus perintis Pesantren Keresek, Cibatu, yang masih keturunan ke-9 dari Sunan Gunung Jati, Cirebon. Dalam kesempatan ziarah ini hadir kepala sekolah dan guru-guru SMA Labaschool UPI Cibiru.
