GARUT INTAN NEWS – Garut tak hanya dikenal sebagai kota berhawa sejuk di kaki pegunungan, tetapi juga sebagai bagian penting dari sejarah panjang Priangan di awal abad ke-20. Dalam rentang waktu 1910–1920-an, Garut menjelma menjadi destinasi eksklusif yang dijuluki “Swiss van Java”.
Melalui dokumentasi visual para fotografer kolonial, wajah Garut tempo doeloe kembali hadir—membuka ruang ingatan tentang lanskap alam yang memesona, geliat pariwisata, hingga dinamika sosial di bawah administrasi Hindia Belanda.
Pada masa itu, kawasan Cipanas berkembang pesat sebagai tujuan wisata unggulan. Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur menjadi magnet bagi wisatawan Eropa yang mencari ketenangan dan keindahan tropis.
Panorama pegunungan yang mengelilingi kota, hamparan kebun yang hijau, serta jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan menghadirkan suasana eksotis yang dipromosikan secara luas oleh pemerintah kolonial. Garut digambarkan sebagai surga kecil di Priangan—tenang, alami, namun perlahan bergerak menuju modernitas kolonial.
Simbol kejayaan pariwisata saat itu tak lepas dari kemegahan Hotel Papandayan. Hotel termewah di Priangan pada masanya ini berdiri megah dengan arsitektur kolonial yang dipadukan sentuhan tropis. Bangunan tersebut menjadi representasi eksklusivitas dan gaya hidup elite Eropa. Tak jauh dari pusat kota, di dataran tinggi yang sejuk, berdiri Hotel Ngamplang yang menawarkan panorama lapangan golf dan pegunungan yang memukau.
Hotel-hotel ini bukan sekadar tempat bermalam, melainkan ruang sosial tempat pejabat kolonial, pengusaha perkebunan, dan wisatawan Eropa bertemu serta membangun jejaring. Dokumentasi hitam putih yang tersaji memperlihatkan wajah kota yang mulai tertata.
Jalan raya lebar, jembatan kokoh, serta kantor-kantor administrasi mencerminkan sistem kolonial yang terstruktur. Tata kota dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Namun di balik kemegahan arsitektur dan geliat pariwisata, tersimpan realitas sosial yang kompleks—kerja paksa, sistem perkebunan, dan stratifikasi masyarakat yang membentuk lapisan-lapisan kehidupan saat itu.
Foto-foto tersebut bukan sekadar potret visual, melainkan arsip sejarah yang membekukan waktu. Di dalamnya, tersimpan kisah interaksi antara alam Priangan yang subur, kekuasaan kolonial, dan masyarakat lokal yang beradaptasi dengan perubahan zaman. Lanskap indah dan bangunan megah berdiri berdampingan dengan cerita tentang daya tahan dan transformasi sosial.
Melalui penelusuran jejak Garut tempo doeloe, kita diajak membayangkan suara derap delman di jalanan kota, percakapan dalam bahasa Belanda di beranda hotel, hingga aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Setiap foto menghadirkan fragmen memori kolektif yang memperkaya pemahaman kita tentang identitas Garut hari ini.
Garut masa kini adalah hasil perjalanan sejarah yang panjang. Dengan menatap kembali dokumentasi era 1910–1920-an, kita tidak hanya bernostalgia, tetapi juga merawat ingatan bersama—agar sejarah tetap hidup, dipahami, dan memberi makna bagi generasi kini serta mendatang.
Berikut Beberapa Foto Garut Tempo Doeloe:







