GARUT INTAN NEWS – Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PKS, E Kustini Sukarno, menyoroti masih banyaknya sekolah di Garut yang memiliki fasilitas toilet dalam kondisi tidak layak, tidak terawat, dan tidak memadai. Temuan tersebut ia sampaikan setelah melakukan kunjungan langsung ke sejumlah sekolah.
Menurut E Kustini, kondisi toilet di beberapa sekolah sangat memprihatinkan. Banyak toilet yang rusak, kotor, serta minim perawatan, sehingga tidak nyaman dan bahkan berisiko bagi kesehatan siswa. Ia mencontohkan salah satu sekolah yang memiliki sekitar 400 siswa, namun hanya tersedia dua unit toilet, itupun dalam kondisi tidak layak pakai, terutama dari segi kebersihan.
“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan. Satu sekolah dengan ratusan siswa hanya memiliki dua toilet, kondisinya pun rusak dan kotor. Jelas ini tidak memadai dan sangat jauh dari kata layak,” ujar E Kustini.
Ia menjelaskan, secara umum rasio toilet di sekolah seharusnya diperhatikan dengan serius. Untuk tingkat SD, idealnya tersedia 1 toilet untuk 60 murid laki-laki dan 1 toilet untuk 50 murid perempuan. Sementara di tingkat SMP dan SMA, rasio toilet bisa lebih baik, yakni sekitar 1:40 untuk murid laki-laki dan 1:30 untuk murid perempuan. Namun demikian, standar ideal yang direkomendasikan WHO dan UNICEF adalah sekitar 1 toilet untuk 25 siswa di semua jenjang pendidikan.
“Kalau dibandingkan dengan standar WHO dan UNICEF, kondisi toilet di banyak sekolah kita masih sangat jauh. Bahkan rasio minimal nasional pun belum terpenuhi, apalagi standar ideal internasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, E Kustini mengingatkan bahwa toilet sekolah yang kotor dan tidak terawat dapat menjadi sumber berbagai penyakit. Menurutnya, siswa yang terpaksa menggunakan toilet yang jorok dan penuh bakteri berisiko tertular penyakit, yang kemudian bisa terbawa ke rumah dan menular ke anggota keluarga lainnya.
“Toilet yang kotor itu sarang bakteri. Anak-anak bisa sakit, lalu penyakitnya terbawa pulang dan berdampak ke keluarga. Ini bukan persoalan sepele, tapi menyangkut kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa tanggung jawab perawatan toilet sekolah tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah. Kepala sekolah, guru, serta seluruh warga sekolah memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan dan pemeliharaan fasilitas sanitasi. Selain itu, pihak sekolah diharapkan aktif memberikan edukasi kepada siswa tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Kepala sekolah, guru, dan seluruh warga sekolah harus bersama-sama menjaga dan merawat toilet. Anak-anak juga perlu diberikan pemahaman tentang PHBS, agar mereka terbiasa hidup bersih dan sehat sejak dini,” katanya.
Menurut E Kustini, demi terwujudnya PHBS di lingkungan sekolah, salah satu syarat utamanya adalah tersedianya toilet yang memadai, layak, dan terawat. Toilet yang bersih, sehat, dan wangi akan memberikan rasa nyaman bagi para pengguna, khususnya siswa, serta mencegah kebiasaan jorok yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
“Kalau toiletnya layak, bersih, sehat, dan wangi, siswa akan nyaman menggunakannya. Ini bagian penting dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan mendukung proses belajar,” pungkasnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, sekolah, maupun masyarakat, untuk bersama-sama menjaga dan merawat fasilitas yang ada, sehingga lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang aman, sehat, dan nyaman bagi para siswa.
