BerandaBabancongHadapi Kebakaran dan Rescue, Disdamkarmat Garut Perkuat Personel

Hadapi Kebakaran dan Rescue, Disdamkarmat Garut Perkuat Personel

GARUT INTAN NEWS – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Garut terus memperkuat kesiapan personel dalam menghadapi kejadian kebakaran maupun kondisi darurat lainnya. Keterbatasan jumlah petugas menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi, mengingat luas wilayah Kabupaten Garut dan kebutuhan pelayanan hingga ke daerah pelosok.

Kepala Disdamkarmat Kabupaten Garut, U. Basuki Eko, mengatakan saat ini terdapat sekitar 140 personel yang tersebar di sejumlah pos dan Markas Komando (Mako).

“Sekitar 10 pos dengan Mako. Anggota itu kita 140 tersebar,” kata Basuki.

Menurutnya, idealnya satu unit mobil pemadam kebakaran dioperasikan oleh enam personel. Pembagian tersebut terdiri dari satu pengemudi, satu operator, dua petugas yang memegang selang atau fighter, serta dua helper yang bertugas membantu menahan tekanan selang.

Tekanan air dari selang pemadam cukup tinggi sehingga membutuhkan personel yang memadai. Jika jumlah petugas kurang, bukan hanya efektivitas penanganan kebakaran yang terganggu, tetapi keselamatan petugas juga dapat terancam.

“Karena enam orang itu sudah dibagi tugas. Satu driver, satu operator, empat orang di depan. Dua orang fighter yang memegang selang langsung di depan, dua helper yang menahan karena kalau tidak ditahan tekanannya tinggi,” ujarnya.

Basuki mengatakan keterbatasan personel juga berdampak pada penggunaan nosel. Dalam kondisi ideal, satu unit pemadam dapat menggunakan dua nosel secara bersamaan sehingga penanganan api bisa dilakukan dari beberapa arah.

Dengan dua nosel, petugas dapat membentuk pola serangan sekaligus perlindungan menggunakan tirai air atau water curtain. Pola tersebut dinilai dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus memberikan perlindungan kepada petugas yang berada di garis depan.

“Seharusnya setiap unit Damkar itu disiapkan dua untuk nosel. Ini digunakan satu karena kurang anggota. Kalau dengan dua nosel, penanganan akan lebih cepat, berarti nyawa akan lebih terselamatkan,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdamkarmat Garut mendorong pengalihan atau alih tugas pegawai dari perangkat daerah lain ke Damkar. Sebelumnya, terdapat persoalan regulasi terkait perpindahan pegawai, khususnya tenaga PPPK.

Namun, menurut Basuki, setelah dilakukan perjuangan dan komunikasi dengan pemerintah pusat, perpindahan tersebut mulai memungkinkan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kebutuhan riil di lapangan.

Pada proses sebelumnya, sebanyak 21 pegawai mengikuti seleksi untuk alih tugas ke Damkar, tetapi hanya 11 orang yang dinyatakan lolos. Mereka kemudian menjalani pendidikan dan pelatihan selama sekitar tiga bulan sebelum dilakukan pembaretan sebagai anggota Damkar.

Kini Disdamkarmat kembali mengajukan alih tugas terhadap 18 pegawai untuk menambah kekuatan personel.

Seleksi dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan kondisi fisik, mental dan kesiapan calon petugas. Pasalnya, tugas pemadam kebakaran dan penyelamatan memiliki risiko tinggi serta membutuhkan keberanian dan kesiapan menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

“Kita lihat usia, fisik, atau bermasalah atau tidak. Kemarin saja kita ada 21 yang lolos 11. Selektif, fisiknya, mentalnya. Jadi harusnya dia tidak takut ular, tidak takut ketinggian dan yang lainnya,” ujar Basuki.

Selain persoalan personel, luas wilayah Kabupaten Garut juga membuat kebutuhan penambahan pos pemadam menjadi penting. Saat ini Disdamkarmat menargetkan penambahan sedikitnya tiga pos baru, yakni di wilayah Talegong, Samarang dan Cilawu.

Basuki menyebut keberadaan pos yang tersebar hingga wilayah pelosok menjadi salah satu kekuatan Garut dalam merespons kejadian kebakaran dan penyelamatan, termasuk ketika kejadian berlangsung di wilayah perbatasan kabupaten.

“Garut sekarang sudah termasuk bagus di antara se-Jawa Barat. Buktinya Garut suka menangani Tasik atau Sumedang, daerah perbatasan dicover oleh kita, karena Garut posnya banyak dan ada di pelosok macam Singajaya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa dalam penanganan kebakaran maupun operasi penyelamatan, batas administrasi wilayah bukan menjadi pertimbangan utama. Kecepatan mencapai lokasi menjadi hal yang lebih penting karena menyangkut keselamatan manusia.

“Karena kita dalam kebakaran atau rescue tidak ada batas administratif. Siapa yang cepat, dia yang menangani. Yang penting ini kemanusiaan, siapa yang cepat,” pungkasnya.

Simak berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita GarutIntanNews.com di WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaUeKWD1iUxcq6U1Fe40. Pastikan aplikasi WhatsApp sudah terinstal.

Baca Juga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERKINI

Banyak Dibaca